Jumat, 21 Maret 2014

Aku, Nasihat dan Doa, di Metro Mini



            Tanggal 28 Februari 2014. Kala itu aku hendak ke kampus, untuk mendaftar serta menyerahkan segala berkas dan fotokopi 3 rangkap untuk proposal skripsi ku.
            Duduk didekat pintu metro mini adalah posisi yang paling nyaman untuk ku. Berat isi tas, sekaligus membawa tentengan fotokopi proposal skripsi, aku meletakkan tas dikursi yang belum ditempati penumpang (metro mini menyediakan 2 kursi gandeng perbaris). “Semoga nanti ga ada yang minat untuk duduk dikursi ini” ungkap dalam hati. Nyaman sekali, sejuk. Angin langsung menerpa wajah yang berderai keringat. Berikut aku tampilkan foto dari metro mini 71 jurusan Blok M – Bintaro, (Google.com).
            Kali ini metro mini ngetem (berhenti mencari penumpang) di stasiun Kebayoran. Mulai ramai, pikirku masih sama “semoga ga ada yang minat untuk duduk dikursi ini”. Sebuah suara mendatangi telinga juga pikiranku, “permisi nak”. Sontak aku memiringkan kaki untuk mempersilahkan ibu tersebut duduk. 0,50 detik usai mendengar, “permisi nak”. Jujur agak kecewa. Egois ya? Maaf. #sebetulnya aku tidak pernah seperti ini. Mungkin karena tentenganku berat dan isi tas jg berat alias gendut.
            Suara itu begitu ramah dan lembut. “Sini nak, ibu bantu bawa”, sambil menepuk-nepuk paha, mengisyaratkan ‘letakkan saja disini’. Menolehkan kepala dan tersenyum aku menjawab “tidak apa-apa bu, terima kasih”.
            Sekali lagi dengan wajah ramahnya ia bertanya padaku, “kelihatannya berat sekali bawaannya nak?  bawa laptop ya?”.
            “Iya bu, hari ini saya mengumpulkan dan mendaftar untuk sidang proposal skripsi. Minta doanya ya bu, agar dilancarakan Allah” ucapku.
            “Iya nak, ibu doakan agar lancar ujian sidang proposal skripsinya sampai akhir sidang skripsi. Kamu kuliah dimana dan jurusan apa, nak?” tanyanya.
           Setelah selesai aku menjawab, Ibu itu terlihat seperti memikirkan sesuatu, sejurus ia menjawab uneg-uneg yang ada dipikirannya, “oh iya, jalan limau ya? ibu tahu. Anak ibu juga kuliah dijurusan yang sama. Tapi sekarang sudah pindah”.
            Sepanjang perjalanan stasiun hingga mayestik kami banyak bercerita. LHO! TUH KAN ANGGA, ADA HIKMAHNYA! #haha caps lock ada betulnya #nyengir malu. Ucapan atau nasihat yang betul-betul nempel di sini *nunjuk kepala* adalah “Belajar yang baik nak, fokus dengan skripsinya. Seperti anak Ibu, Alhamdulillah sudah sukses. Ibu doakan kamu lancar skripsinya dan mendapat pekerjaan yang baik, gaji yang besar, nak. Kuncinya adalah kamu rajin sholat lima waktu, tahajud, dhuha, puasa senin kamis, juga banyak membantu orang-orang disekeliling kamu, nak. Membantu dari hal kecil saja contohnya, akan memudahkan kamu nanti disaat kesulitan. Misalnya, waktu sidang skripsi kamu belum bisa menjawab pertanyaan, siapa yang akan menolong bila bukan dari kekuatan Allah”. Subhanallah. Tentram hatiku. Sekaligus malu, karena tidak langsung mempersilahkan Ibu itu duduk.
            “Baik bu. Terima kasih nasihat juga doanya ya bu”, jawabku dengan senyuman yang betul-betul tulus. Sekejap aku teringat dengan sedikit bantuanku terhadap teman-teman, bila ada yang ingin diminta bantuan untuk mencari judul atau menentukan perhitungan sampel atau yang lainnya. Sebab, disaat aku sedang mumet otak-atik rumus cluster tidak menemukan nilai jawaban. Aku langsung menghubungi teman (tya), ia membantuku dengan perlahan-lahan, agar aku mendapat nilai jawaban yang tepat by sms. Terima kasih, teman. Alhamdulillah.
            Bantuan kita akan sangat bermanfaat bagi orang lain. Begitu pula sebaliknya, bantuan mereka akan bermanfaat bagi kita. Semangat selalu Angga dan semangat selalu teman-teman semua :D

          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar